Postingan

Tarian yang tak usai

Hujan rintik rintik menyapa jendela yang terkurung. Di pelukan sinar aku dan penyelesaian aku ini bergandeng menari bersama alunan temu. Halaman basah diguyur gejolak didada tampak terasa memangil lagi untuk di pijakan dengan sengaja. Aku kemari benahi, aku disini, menyelesaikan masalah yang tak kunjung reda juga, pada kesempitan pikiran datanglah dan peluk aku sendiri ini. Supaya tidak juga pembohongan diri pada pemandangan sore hari layung tiba. Aku akan melihat begitu sempurna, tanpa jeda akan ku juga indahkan dengan apa apa yang menjadi aku sendiri waktu itu, Sendiri.  Bandung, 29 September 2022.

Cerpen

LANGIT ABU-ABU        Jam menunjukkan pukul 06.00 pagi. Namun langit sudah disambut dengan suara kendaraan yang hilir mudik melewati jalan itu, rumah ica memang dekat dengan jalan sehingga sekecil apapun suara kendaraan pasti akan terdengar juga. Mentari pagi dan suara itu terpaksa membangunkan ica dari tidur lelapnya, setiap pagi dan sore bahkan malam pun yang didengarnya bukan alunan burung-burung dan suara segelintir angin disertai goyangan pepohohonan, melainkan suara klakson dan asap knakpot yang menjajah jalanan ini. Ingin sekali ica bermimpi agar yang membangunkan tidur lelapnya hanyalah suara alunan burung-burung yang sedang bersahutan dan menari-nari diatas langit yang biru cerah.       Ica juga memiliki impian kelak ia ingin mempunyai taman yang didalamnya terdapat bermacam-macam bunga dan pepohonan menjulang tinggi, terdapat pula kolam ikan. Bukan hanya saja kupu-kupu yang bersemayan didalamnya melaikan ada juga bermacam-macam burung yang ma...

Bapa Pulang

pada suatu malam, aku tertegun, hati ku bergetar. Bukan hanya itu di rumah anak, ibu, semua menagih, sedang bapa tergontai lelah mengayun demi jalanan kota malam yang di balut sunyi. Aku berjalan pasrah tanpa arah sekalipun pikiran berjalan lebih berani malam ini. Termangu aku pada jalanan kota, di jalan lalu lintas itu, anak anak bermain mengikutin jejak darah seni lingkunganya. sekali lagi aku tertegun, hati ku bergetar tak tentu rasa, pikiran masih berani nya dengan menyusurin anak anak itu. Jalan yang seakan di buru waktu itu terus mengayunkan kekuatanya, entah lelah ataupun sekedar haus tanpa tegas tak di beri waktu untuk istirahat. Ayunan itu semakin waktu semakin melambat, ingat pada anak dan ibu agar bergegas pulang dengan membawa martabak manis, kembali pada ayunan tegas itu lagi dan lagi meski keringat membasahi. Jangan lupakan hari ini aku ataupun sesiapa yang melihat sisi kota di malam hari ini.                      ...