Bapa Pulang

pada suatu malam, aku tertegun, hati ku bergetar. Bukan hanya itu di rumah anak, ibu, semua menagih, sedang bapa tergontai lelah mengayun demi jalanan kota malam yang di balut sunyi. Aku berjalan pasrah tanpa arah sekalipun pikiran berjalan lebih berani malam ini. Termangu aku pada jalanan kota, di jalan lalu lintas itu, anak anak bermain mengikutin jejak darah seni lingkunganya. sekali lagi aku tertegun, hati ku bergetar tak tentu rasa, pikiran masih berani nya dengan menyusurin anak anak itu. Jalan yang seakan di buru waktu itu terus mengayunkan kekuatanya, entah lelah ataupun sekedar haus tanpa tegas tak di beri waktu untuk istirahat. Ayunan itu semakin waktu semakin melambat, ingat pada anak dan ibu agar bergegas pulang dengan membawa martabak manis, kembali pada ayunan tegas itu lagi dan lagi meski keringat membasahi. Jangan lupakan hari ini aku ataupun sesiapa yang melihat sisi kota di malam hari ini. 

                                    Bandung, 21 Juli 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tarian yang tak usai

Cerpen