Cerpen
LANGIT ABU-ABU
Jam menunjukkan pukul 06.00 pagi. Namun langit sudah disambut dengan suara kendaraan yang hilir mudik melewati jalan itu, rumah ica memang dekat dengan jalan sehingga sekecil apapun suara kendaraan pasti akan terdengar juga. Mentari pagi dan suara itu terpaksa membangunkan ica dari tidur lelapnya, setiap pagi dan sore bahkan malam pun yang didengarnya bukan alunan burung-burung dan suara segelintir angin disertai goyangan pepohohonan, melainkan suara klakson dan asap knakpot yang menjajah jalanan ini. Ingin sekali ica bermimpi agar yang membangunkan tidur lelapnya hanyalah suara alunan burung-burung yang sedang bersahutan dan menari-nari diatas langit yang biru cerah.
Ica juga memiliki impian kelak ia ingin mempunyai taman yang didalamnya terdapat bermacam-macam bunga dan pepohonan menjulang tinggi, terdapat pula kolam ikan. Bukan hanya saja kupu-kupu yang bersemayan didalamnya melaikan ada juga bermacam-macam burung yang mampir bahkan membuat sarang diatas pohon. Namun, impiannya itu hanyalah akan menjadi bunga tidur saja jika ica tidak melakukan tindakan apapun, ia harus menanam pohon, membeli bibit dan pupuk, serta lahan yang sangat luas. Kebutuhan tersebut perlu biaya yang tidak sedikit.
Suatu ketika langitnya yang biru cerah itu terlihat muram, samar-samar terlihat senyum mentarinya. Ica tahu bahwa langit nya kini sedang tidak baik-baik saja pasalnya saja ini semua akibat ulah manusia sendiri. Ica terbiasa berjalan jauh dan menggunakan angkutan umum untuk pergi kesuatu tempat, dengan metode ini ica mencoba untuk tidak ketergantungan terhadap kendaraan pribadi. Pada suatu ketika ica sedang berada di dalam angkutan umum bersama tamarra untuk menjenguk dilla. Ica dan tamarra sedikit merasa kesal karena melihat seseorang dipinggir jalan sedang membakar sampah tanpa rasa bersalah.
“ca liat deh itu” ucap tamarra sembari menunjukkan telunjuknya mengarah pada orang itu
“kok bisa sih tam ada orang bakar sampah mana banyak banget lagi sampah yang dibakar?” dengan nada yang jengkel ica menggerutu kepada tamarra
“langit biru ini kayanya engga bakal lama lagi, bakal ganti sama warna abu-abu kalo semua orang melakukan hal yang sama kaya orang tadi” tamarra berucap sedih
“iya tam, kita harus rubah kebiasaan ini kearah yang lebih baik, di mulai dari diri aku sendiri biar orang-orang disekeliling akupun ngikutin”
“bener banget ca, aku setuju”.
Tamarra dan ica turun dari angkutan umum tadi dan kembali berjalan kearah rumah dilla, dijalan tamarran melihat bekas botol mineral yang tersisa setengah lagi, dengan sigap tangan tamarra meraih botol tersebut lalu membuang airnya ke tanaman didepannya setelah dipastikan air dalam kemasan tersebut sudah habis lantas membuangnya pada tempat sampah non organic. Mereka kembali melanjutkan aktivitasnya berjalan kearah rumah dilla.
Rumah Dilla,
‘Assalamu’alaikum dilla, aku dan tamarra datang menjengukmu’ ucap tamarra sembari mengetuk pintu kamar Dilla
‘Waalaikumssalam ayo masuk sini’ dilla mempersilahkan
Bagaimana kesehatanmu sekarang dil?
‘Alhamdulillah baik tam’
Coba ceritakan pada kita apa yang sudah terjadi sesudah kau pulang dari pertemuan terakhir kita minggu lalu hingga kau sampai sakit begini’ dikeluarkan oleh ica dengan nada yang sedang menginterogasi
‘’Ketika dijalan pulang aku menunggu angkutan umum, tiba tiba saja didepan ku terdapat pengendara motor yang melewati ku dan mengeluarkan gas yang sangat kotor sehingga menimpa wajahku, tidak sengaja juga aku menghirup asap knalpot tersebut. Tidak lama itu aku sampai rumah dengan kondisi yang batuk parah, untungnya ibuku segera memberikan aku obat penyembuh batuk akhirnya aku bisa sembuh dan tentunya aku bisa bertemu dengan kalian’’ jelas dilla mencerikan dengan ekspreksi yang sedih
‘lagi-lagi ulah pengendara motor, apakah mereka tidak pernah berpikir apa dampak menggunakan motor’ ica bergerutu
‘sudah lah ca jangan marah-marah gitu, percuma juga kamu marah itu ga akan merubah dilla agar tidak sakit. Dilla sakit kita bertiga jadi makin sadar dan berubah gaya hidup kita ke lebih baik lagi, dengan cara kita bisa mengurangi emisi gas beracun ke langit seperti yang sudah di jelaskan di sekolah’ ucap tamarra dengan lada yang lembut
Dilla yang hanya menyimak itu hanya mengangukan kepala menandakan setuju apa yang dikatakan sahabat nya itu.
Obrolah mereka terus mengalir bagai air, tidak pernah tidak ada topik jika mereka bertiga disatukan. Dari mulai hal terkecill pun mereka obrolkan. Pertemanan mereka ini sangat positif mereka mencoba hal-hal baik dari apa yang mereka dapatkan disekolah dan mencoba menerapkanya di lingkungan rumah. Dari sini juga kita belajar, sekecil apapun usaha yang kita lakukan untuk mengubah alam lebih baik lagi tidak akan menjadi sia-sia. Sekecil-kecilnya sebesar-besarnya kita sudah mencoba.
mantap
BalasHapuskerennn bangett sihh👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
BalasHapusCeritanya menarik banget 💋💋💋
BalasHapusmenarik banget cerpennya, baguss
BalasHapusAmanat yang disampaikan sangat bagus,bisa menjadi pembelajaran bagi pembacaa
BalasHapusSangat bagus
BalasHapusWihhh menarik bangetttt
BalasHapusWihhhh cerpennya sanagat menarikkk
BalasHapusBerkesan bgt sih
BalasHapusKeren banget ceritanya kata-kata nya sangat luas pengertiannya semakin kembangkan karyamu yaa geuliss
BalasHapuskecee
BalasHapus